Rumor Kematian Netanyahu: Fakta atau Rekayasa Digital?

POJOKNEGERI.com – Kabar mengenai kondisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sempat menjadi perbincangan global setelah media Iran melaporkan dugaan bahwa ia telah tewas.
Laporan tersebut memicu berbagai spekulasi di media sosial dan memunculkan tanda tanya terkait keberadaan pemimpin Israel itu.
Isu tersebut pertama kali mencuat setelah kantor berita Iran, Tasnim, mengangkat spekulasi mengenai kemungkinan kematian Netanyahu.
Namun hingga kini, pihak Israel belum memberikan konfirmasi resmi maupun bukti kredibel yang mendukung klaim tersebut.
Spekulasi mengenai kematian Netanyahu justru semakin berkembang. Ini setelah kantor PM Israel mengunggah video yang oleh sebagian warganet dunia diyakini menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kantor PM Israel mengunggah video tersebut pada Jumat (13/3/2026). Pada detik ke-35, saat Netanyahu mengangkat tangannya. Sejumlah warganet melihat bagian yang tampak seperti jari tambahan di dekat jari kelingking dan menafsirkannya sebagai jari keenam.
Namun, sebagaimana NDTV laporkan pada Minggu (15/3/2026), Kantor Netanyahu kemudian membantah laporan mengenai kematian sang Perdana Menteri dan menegaskan bahwa ia berada dalam kondisi baik.
Tanggapan Israel
Pejabat Kantor PM Israel menanggapi rumor yang beredar dan menegaskan bahwa Netanyahu berada dalam kondisi baik.
Seorang koresponden dari Anadolu Agency sempat menanyakan langsung kepada kantor tersebut mengenai klaim yang semakin ramai di media sosial bahwa seseorang telah membunuh Netanyahu di tengah ketegangan dengan Iran.
Pihak kantor Perdana Menteri menepis isu tersebut dan menyatakan bahwa kabar itu tidak benar.
“Ini berita bohong, Perdana Menteri baik-baik saja,” tulis Kantor PM Netanyahu.
Komentator politik konservatif Amerika, Candace Owens, turut menyoroti rumor yang beredar dengan mempertanyakan keberadaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Di mana Bibi?” tulisnya dalam unggahannya di platform X dengan menggunakan nama panggilan Netanyahu.
Owens juga mempertanyakan alasan Kantor Netanyahu sempat merilis lalu menghapus video yang diduga berbasis AI, serta menyinggung adanya kepanikan di White House.
Sejumlah pengguna media sosial lainnya juga menyoroti detail dalam video tersebut. Salah satunya mempertanyakan pergerakan tirai di latar belakang yang terlihat bergerak berulang dengan pola yang sama, sementara dua bendera Israel di sampingnya tidak bergerak sama sekali.
Menurut pengguna itu, kondisi tersebut mengindikasikan kemungkinan penggunaan teknologi AI. Meski demikian, tidak semua pihak menerima klaim tersebut.
Beberapa pengguna lain justru menolak anggapan itu dan menyatakan bahwa saat ini banyak pihak, termasuk penyiar berita, menggunakan latar belakang buatan atau virtual.
Karena itu, mereka menilai bahwa keberadaan latar belakang seperti itu tidak serta-merta membuktikan bahwa video tersebut palsu.
Mengapa rumor Netanyahu tewas cepat menyebar?
Sebagaimana Turkiye Today beritakan pada Minggu, rumor mengenai kematian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebar luas di media sosial karena sejumlah peristiwa yang memicu spekulasi publik.
Isu tersebut menguat setelah laporan menyebutkan bahwa Netanyahu tidak menghadiri rapat “War Council” yang berlangsung di tengah konflik dengan Iran pada Sabtu (14/3/2026).
Ketidakhadiran itu memunculkan berbagai dugaan mengenai kondisi dan keberadaannya. Spekulasi semakin berkembang setelah Tasnim News Agency melaporkan adanya unggahan media sosial yang belum terverifikasi.
Unggahan tersebut menuduh Iran telah menyerang kediaman Netanyahu, menewaskan saudara laki-lakinya serta melukai Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.
Laporan itu juga mengutip pernyataan serupa dari Scott Ritter yang turut menyinggung rumor tersebut.
Penyebaran isu semakin cepat setelah muncul klaim bahwa video terbaru Netanyahu kemungkinan menggunakan teknologi AI.
Sejumlah pengguna media sosial menyoroti cuplikan video tersebut dan menyatakan bahwa tangan Netanyahu tampak memiliki enam jari, sehingga memicu berbagai spekulasi tambahan.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan juga meningkat setelah Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan itu dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta beberapa wilayah lain seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk.
Menurut Iran, serangan tersebut menargetkan aset militer AS. Sejak 28 Februari, tiga rudal Iran juga memasuki wilayah udara Turkiye sebelum sistem pertahanan mencegatnya.
Namun pemerintah Iran membantah bahwa pihaknya meluncurkan rudal yang mengarah ke Turkiye, Azerbaijan, maupun Siprus Yunani.
Sementara itu, putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pada pekan lalu.
(*)
