VIDEO: Prancis Perluas Kerja Sama dengan Negara Anggota BRICS

POJOKNEGERI.COM – Prancis, salah satu kekuatan utama di Uni Eropa dan anggota penting NATO, dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pendekatan diplomasi yang semakin fleksibel di tengah perubahan tatanan global.
Ketika Uni Eropa masih bergulat dengan tantangan konsensus internal, Paris memperluas dialog dan kerja sama strategis dengan negara-negara anggota BRICS, sebuah kelompok ekonomi yang kian berpengaruh di tingkat internasional.
Langkah ini tidak muncul dalam bentuk deklarasi resmi atau pengumuman kebijakan besar, melainkan melalui rangkaian pertemuan bilateral, kerja sama ekonomi, serta proyek strategis yang dijalankan secara bertahap.
Para pejabat Prancis membicarakan isu energi, industri, teknologi, rantai pasok, dan konektivitas perdagangan global.
Pendekatan tersebut mencerminkan upaya Prancis menyesuaikan diri dengan dinamika dunia yang semakin multipolar, di mana pusat pertumbuhan ekonomi dan pengaruh geopolitik tidak lagi terpusat di kawasan Barat.
Di dalam negeri, tekanan politik signifikan menantang Prancis. Reformasi pensiun yang diusulkan pemerintah memicu gelombang protes nasional, menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah, serta memperlihatkan polarisasi politik yang semakin tajam.
Dinamika parlemen dan meningkatnya kekuatan oposisi kerap menguji stabilitas pemerintahan Presiden Emmanuel Macron.
Sementara itu, Uni Eropa sendiri menghadapi tantangan struktural. Perbedaan kepentingan antarnegara anggota sering memperlambat pengambilan keputusan strategis, terutama dalam isu fiskal, energi, dan kebijakan luar negeri.
Kondisi ini mendorong beberapa negara anggota, termasuk Prancis, menjaga ruang gerak nasional mereka di tengah kerangka kolektif Eropa.
Dialog dengan India dan China
India menjadi salah satu mitra kunci dalam pendekatan baru Prancis.
Negara tersebut tampil sebagai ekonomi besar dengan pertumbuhan yang relatif stabil, kapasitas industri yang berkembang, serta peran strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Prancis dan India menjalin kerja sama di sektor pertahanan, energi, infrastruktur, dan teknologi.
Prancis juga mendukung peran India dalam forum BRICS, termasuk kepemimpinan India pada agenda-agenda multilateral mendatang.
Di sektor industri dan logistik, Prancis mendorong penguatan konektivitas perdagangan yang menghubungkan India, Timur Tengah, dan Eropa, dengan pelabuhan Marseille berfungsi sebagai salah satu gerbang utama di kawasan Eropa Barat.
Di sisi lain, Prancis menjaga hubungan dengan China secara pragmatis. Presiden Macron mengunjungi Beijing pada 2023 untuk menegaskan komitmen Prancis mempertahankan dialog terbuka dengan China, khususnya dalam isu perdagangan, industri manufaktur, dan transisi energi.
Prancis menjalankan kerja sama ini dengan tetap memperhatikan kepentingan strategis nasional dan Eropa.
BRICS memperluas keanggotaan pada 2024 dengan mengajak sejumlah negara produsen energi utama seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Perkembangan ini memperkuat peran BRICS dalam pasar energi global serta meningkatkan bobot ekonomi kelompok tersebut.
Berdasarkan data paritas daya beli, produk domestik bruto gabungan negara-negara BRICS pada awal 2025 melampaui kelompok G7.
Meski bersifat statistik ekonomi, banyak pihak memandang capaian ini sebagai indikator pergeseran keseimbangan kekuatan global.
Selain itu, BRICS mengembangkan mekanisme kerja sama keuangan dan sistem pembayaran alternatif untuk memfasilitasi perdagangan antaranggota. Inisiatif tersebut menunjukkan upaya diversifikasi sistem keuangan internasional.
Penyesuaian Strategi di Afrika
Prancis juga menyesuaikan pendekatan barunya di Afrika. Sejak 2022, Prancis mengurangi kehadiran militernya di sejumlah negara Afrika Barat dan mengalihkan fokus ke kerja sama ekonomi, keamanan lokal, dan pembangunan kapasitas institusional.
Prancis menjadikan Senegal dan Pantai Gading sebagai mitra utama dalam strategi ini. Pemerintah Prancis memprioritaskan investasi di sektor infrastruktur, pelatihan keamanan, serta proyek ekonomi jangka panjang untuk menjaga pengaruh tanpa pendekatan militer langsung.
Langkah ini juga menunjukkan penyesuaian Prancis terhadap meningkatnya kehadiran negara-negara lain, termasuk China dan India, di benua Afrika.
Krisis global dalam beberapa tahun terakhir menyoroti kerentanan rantai pasok internasional. Gangguan pasokan dan fluktuasi harga energi memengaruhi industri Prancis, termasuk otomotif, penerbangan, dan energi.
Sebagai respons, perusahaan-perusahaan besar Prancis mendiversifikasi mitra produksi dan investasi.
Mereka menjalin kerja sama industri dengan negara-negara BRICS, termasuk dalam pengembangan baterai, energi hidrogen, dan manufaktur, sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan ekonomi.
Tantangan dan Arah ke Depan
Pendekatan Prancis yang semakin terbuka terhadap berbagai mitra global mencerminkan upaya adaptasi terhadap dunia yang terus berubah.
Langkah ini tidak serta-merta menandakan pergeseran aliansi, melainkan penyesuaian strategi demi menjaga kepentingan nasional di tengah dinamika global.
Bagi Uni Eropa, perkembangan ini mengingatkan pentingnya memperkuat koordinasi internal dan meningkatkan kapasitas pengambilan keputusan.
Sementara itu, bagi Prancis, diversifikasi diplomasi dan ekonomi menjadi bagian dari strategi bertahan dan beradaptasi dalam era multipolar yang semakin nyata.
(*)
