Nasional

Prabowo Subianto Ingatkan Dunia Penuh Bahaya, Tekankan Kemandirian Pangan dan Energi

POJOKNEGERI.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa dunia saat ini menghadapi ketidakpastian besar akibat konflik antar kekuatan global.

Ia menyampaikan peringatan tersebut saat meresmikan 218 jembatan bailey, armco, dan perintis di seluruh Indonesia secara virtual, Senin (9/2/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menekankan pentingnya kemandirian nasional, khususnya di bidang pangan dan energi, sebagai benteng menghadapi krisis global.

Prabowo menyatakan bahwa pertikaian antar kekuatan besar berpotensi menyeret banyak negara ke dalam kesulitan. Ia menilai kondisi ini dapat menimbulkan dampak serius terhadap stabilitas ekonomi dan politik dunia. “Kita berada dalam keadaan dunia yang penuh bahaya. Pihak-pihak kekuatan besar sedang bertikai dan bisa menyeret bangsa-bangsa lain ke dalam keadaan yang susah,” tegasnya.

Optimisme Menghadapi Krisis

Meski mengakui adanya ancaman, Prabowo tetap optimistis Indonesia mampu keluar dari krisis dengan kondisi lebih kuat. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar dan terus ditemukan setiap hari.

“Saya sudah melihat dan mempelajari angka-angka, data-data kekayaan kita. Setiap hari kita menemukan kekayaan-kekayaan baru,” ujarnya.

Prabowo menambahkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh menutup mata terhadap kesulitan yang mungkin muncul. Namun, ia percaya bahwa dengan kerja keras dan persatuan, Indonesia akan tumbuh lebih makmur dan produktif.

“Kita akan keluar dari krisis ini dalam keadaan yang lebih kuat dan lebih makmur, lebih produktif, lebih mampu berdiri di atas kaki kita sendiri,” katanya.

Kemandirian Pangan

Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa pemerintah telah lama memperjuangkan kemandirian pangan. Ia menyoroti beras sebagai kebutuhan pokok yang paling rentan terhadap gejolak harga akibat perang dan krisis global.

Menurutnya, Indonesia sudah mencapai swasembada beras dan sebentar lagi akan mampu memenuhi kebutuhan protein secara mandiri.

“Apapun yang terjadi dimana bangsa lain banyak yang mengalami kesulitan, minimal kita aman masalah pangan,” ujar Prabowo.

Ia menekankan bahwa kemandirian pangan menjadi fondasi penting bagi ketahanan nasional. Dengan swasembada, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan menjaga stabilitas harga di dalam negeri.

Kemandirian Energi

Selain pangan, Prabowo menyoroti pentingnya kemandirian energi. Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan bahan bakar dari komoditas lokal seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu.

“Masalah BBM juga bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada energi. Kita memiliki karunia besar bahwa nanti kita mampu memenuhi kebutuhan BBM kita bukan dari impor, bahkan dari tanaman-tanaman kita,” jelasnya.

Prabowo menilai pengembangan energi berbasis tanaman dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan industri dalam negeri.

Seruan Persatuan

Menutup pidatonya, Prabowo menyerukan seluruh elemen bangsa untuk bekerja keras, menjaga persatuan, dan menghadapi tantangan global bersama-sama. Ia menekankan bahwa hanya dengan kerukunan dan kebersamaan, Indonesia dapat bertahan dan berkembang di tengah krisis dunia. “Kita harus kerja keras, kita harus rukun, kita harus bersatu menghadapi krisis,” tuturnya.

Pidato Prabowo mencerminkan strategi pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian global dengan menekankan kemandirian nasional. Fokus pada pangan dan energi menunjukkan arah kebijakan yang berorientasi pada penguatan sektor strategis. Dengan swasembada beras dan upaya menuju swasembada energi, Indonesia berusaha menempatkan diri sebagai negara yang lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Selain itu, seruan persatuan menjadi pesan penting di tengah kondisi dunia yang penuh konflik. Prabowo menekankan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam, tetapi juga pada solidaritas rakyatnya.

(*)

Back to top button