
POJOKNEGERI.COM — Kepolisian Resor Kota (Polresta) Samarinda secara tegas menolak seluruh pengajuan perayaan tahun baru dengan kembang api. Baik dari masyarakat umum, pengelola hotel, maupun pusat hiburan.
Langkah ini sebagai bentuk empati dan keprihatinan atas bencana alam yang masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) agar tetap kondusif selama malam pergantian tahun.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, menegaskan bahwa keputusan ini bukan sekadar kebijakan lokal. Melainkan tindak lanjut dari arahan pimpinan Polri di tingkat pusat.
“Sudah saya sampaikan kepada seluruh anggota dan masyarakat, tahun ini tidak menyelenggarakan peringatan pergantian tahun dengan aksi-aksi yang terlalu pesta atau berlebihan,” ujar Hendri Umar, Rabu (31/12/2025).
Menurut Hendri, situasi nasional yang terjadi bencana alam menuntut adanya sikap empati kolektif dari seluruh elemen masyarakat. Termasuk dalam cara merayakan momentum pergantian tahun. Karena itu, kepolisian mengambil sikap tegas dengan menolak seluruh permohonan pesta kembang api.
“Kapolri sudah menyampaikan dengan jelas, tahun ini tidak ada pesta perayaan kembang api. Semua rekomendasi pengajuan sudah kami tolak,” tegasnya.
Penolakan Menyeluruh Tanpa Pengecualian
Penolakan tersebut berlaku menyeluruh tanpa pengecualian. Hendri menyebut, sejumlah hotel dan pusat hiburan yang selama ini rutin menggelar pesta kembang api di malam tahun baru juga telah diberikan pemahaman sejak jauh hari.
“Termasuk hotel-hotel dan tempat hiburan seperti Aston, Mercure, FUGO, dan lainnya. Sudah kami sampaikan, dan alhamdulillah semuanya sangat paham dan menyadari kebijakan ini,” ungkapnya.
Meski tanpa pesta kembang api, Polresta Samarinda memastikan pengamanan tetap dilakukan secara maksimal. Sejumlah titik yang biasanya menjadi pusat aktivitas masyarakat saat malam pergantian tahun tetap menjadi fokus pengawasan aparat gabungan.
Lokasi-lokasi tersebut antara lain kawasan Teras Samarinda, Jembatan Achmad Amins, Jalan Lambung Mangkurat, serta sejumlah ruas jalan protokol lainnya. Kehadiran aparat di titik-titik tersebut bertujuan untuk mengantisipasi kerumunan, mencegah potensi gangguan keamanan, serta memastikan arus lalu lintas tetap lancar.
Namun, Hendri menekankan bahwa pendekatan pengamanan kali ini tidak hanya berorientasi pada penindakan, melainkan juga mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif kepada masyarakat.
“Yang kami kedepankan adalah bagaimana malam pergantian tahun ini bisa dilalui dengan aman, tertib, dan penuh makna,” katanya.
Alternatif Perayaan dengan Doa Bersama
Sebagai alternatif dari perayaan yang bersifat euforia, Polresta Samarinda bersama pemerintah daerah dan unsur Forkopimda mendorong kegiatan doa bersama. Kegiatan tersebut akan digelar di sejumlah titik strategis sebagai simbol refleksi dan harapan memasuki tahun yang baru.
“Nanti akan ada doa bersama di Teras Samarinda, di Islamic Center, dan juga di wilayah masing-masing polsek. Camat, danramil, kapolsek, serta ormas akan dilibatkan,” jelas Hendri.
Doa bersama tersebut menjadi ruang kebersamaan lintas elemen masyarakat untuk mendoakan keselamatan bangsa, para korban bencana, serta keamanan dan kesejahteraan Kota Samarinda ke depan.
Meski demikian, Kapolresta menegaskan bahwa masyarakat tetap boleh merayakan malam tahun baru secara sederhana. Kepolisian tidak melarang aktivitas berkumpul atau merayakan pergantian tahun, selama tertib dan tidak berlebihan.
“Kalau ada sedikit perayaan silakan, tapi tidak dengan euforia yang berlebihan,” pungkas Hendri.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menghindari penggunaan petasan, konvoi kendaraan yang mengganggu ketertiban umum, serta konsumsi minuman keras yang berpotensi memicu gangguan keamanan.
Dengan kebijakan tanpa kembang api ini, Samarinda dapat menjadi contoh kota yang mampu merayakan pergantian tahun dengan cara yang lebih bijak, reflektif, dan penuh empati. Pergantian tahun tidak lagi semata sebagai pesta, melainkan sebagai momentum evaluasi, solidaritas, dan harapan bersama menuju masa depan yang lebih baik.
(tim redaksi)
