Pemerintah Bangun Crude Storage di Sumatra, Bisa Tampung Cadangan Minyak 60 Hari

00:00 / 04:32 1×
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia Foto: Dok. Pojoknegeri
Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

POJOKNEGERI.com – Pemerintah mulai memperkuat strategi ketahanan energi nasional melalui pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah atau crude storage di sejumlah wilayah Sumatra.

Infrastruktur ini diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas cadangan minyak Indonesia hingga memenuhi kebutuhan selama 60 hari.

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan rencana tersebut setelah mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menurut Bahlil, pemerintah menyiapkan fasilitas penyimpanan tersebut untuk menampung minyak mentah hasil impor. Dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, pemerintah berharap dapat memperkuat ketersediaan pasokan minyak sekaligus mengantisipasi kebutuhan energi nasional.

“Kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude. Target kita bisa sampai dengan 60 hari,” ujar Bahlil dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Pemerintah Mulai Petakan Lokasi Pembangunan

Pemerintah telah menyelesaikan studi kelayakan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut. Tahap berikutnya, pemerintah akan melakukan peninjauan sejumlah lokasi mulai akhir 2026.

Dalam menentukan lokasi, pemerintah tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan lahan dan kebutuhan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan aspek teknis, keselamatan, serta potensi bencana.

Bahlil menegaskan, pemerintah ingin memastikan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tidak menimbulkan risiko baru bagi masyarakat maupun lingkungan sekitar.

“Salah satu di antaranya adalah kita rancang jangan sampai kondisi di mana kita meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan,” tegasnya.

Bioetanol E20 hingga E50 Masuk Strategi Diversifikasi Energi

Selain memperbesar kapasitas penyimpanan minyak mentah, pemerintah juga menyiapkan langkah diversifikasi energi melalui pengembangan bioetanol.

Dalam rapat terbatas tersebut, Presiden Prabowo turut menanyakan kesiapan pemerintah untuk menerapkan bahan bakar campuran bioetanol E20. Menanggapi hal itu, Bahlil menyebut pemerintah telah menyusun strategi pengembangan bioetanol secara bertahap, mulai dari E20 hingga E50.

Pemerintah akan melibatkan sejumlah kementerian untuk memastikan program tersebut berjalan, terutama dalam menyiapkan pasokan bahan baku dari sektor pertanian.

“E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM,” kata Bahlil.

Melalui dua strategi tersebut, pemerintah berupaya memperkuat infrastruktur cadangan minyak sekaligus mengembangkan sumber energi alternatif. Pembangunan crude storage dan pengembangan bioetanol menjadi bagian dari agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan serta mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi konvensional.

(*)

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif
Pojoknegeri
Redaksi Pojoknegeri

Tim redaksi Pojoknegeri menyajikan berita independen dan berimbang untuk Indonesia.

Lihat Semua Artikel
Bagikan berita ini: Facebook X (Twitter) WhatsApp Telegram