Internasional

NATO Pilih Jalur Kompromi Menyikapi Ambisi Trump soal Greenland

POJOKNEGERI.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menunjukkan ambisinya untuk mencaplok Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark.

Ambisi yang tak berkesudahan Trump tersebut kembali memicu perhatian internasional, khususnya dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Menanggapi isu tersebut, NATO memilih sikap yang lebih lunak dan mengedepankan jalur kompromi.

Aliansi pertahanan itu tidak memberikan penolakan tegas terhadap pernyataan Trump, melainkan berupaya menjaga soliditas internal serta stabilitas kawasan, sebagaimana disampaikan pada Minggu (25/1).

Direktur Jenderal Staf Militer Internasional NATO, Letnan Jenderal Remigijus Baltrenas, mengatakan bahwa NATO saat ini tengah melakukan konsultasi terkait persoalan tersebut. Ia menegaskan bahwa isu Greenland pada dasarnya merupakan urusan bilateral.

“Persoalan ini pada dasarnya menyangkut hubungan bilateral antara dua negara,” ujar Baltrenas, seperti dikutip Anadolu Agency.

Ia juga menambahkan bahwa diskusi yang dipimpin Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bersama para duta besar negara anggota disebut menunjukkan kemajuan positif.

Dari hasil diskusi nanti, Baltrenas menegaskan solusi apa pun harus menguntungkan “aliansi secara keseluruhan, Eropa, serta AS sendiri”.

Baltrenas juga menegaskan bahwa NATO telah memiliki kehadiran yang kuat di kawasan Arktik, termasuk melalui latihan militer rutin bersama AS dan Kanada, yang tidak terdampak oleh ketegangan politik terbaru.

“Ketegangan politik saat ini tidak berdampak pada latihan-latihan tersebut, maupun pada latihan rutin lainnya,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa Denmark baru-baru ini mengemukakan kemungkinan misi NATO di Greenland.

NATO Tak Halangi Ambisi Amerika Serikat

Sebelumnya, NATO mengerahkan pasukannya untuk menempati wilayah Greenland yang ingin dikuasai Amerika Serikat.

Namun, Amerika Serikat menegaskan bahwa pengerahan pasukan NATO tidak akan memengaruhi kebijakan Presiden Donald Trump yang berambisi menguasai Greenland.

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menekankan bahwa kehadiran militer sekutu di Eropa maupun Arktik tidak akan mengubah arah kebijakan Washington.

“Pasukan di Eropa maupun Arktik sama sekali tidak memengaruhi proses pengambilan keputusan presiden, dan tidak menghalangi tujuannya untuk mengakuisisi Greenland,” ujar Leavitt dalam konferensi pers, Jumat (16/1/2026).

Komentar tersebut muncul setelah pertemuan penting antara Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dengan Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen serta mitranya dari Greenland, Vivian Motzfeldt. Pertemuan berlangsung di Gedung Kantor Eksekutif Eisenhower pada Rabu (14/1).

Leavitt menggambarkan pertemuan itu sebagai “produktif” dan menekankan bahwa kedua belah pihak menunjukkan keseriusan dalam membahas masa depan Greenland.

Leavitt menambahkan bahwa hasil pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membentuk kelompok kerja bersama.

“Kedua delegasi sepakat untuk benar-benar membentuk kelompok kerja yang akan terus melakukan pembicaraan teknis tentang akuisisi Greenland,” kata Leavitt.

Ia menegaskan bahwa pembicaraan teknis akan berlaku secara rutin. “Pembicaraan akan terjadi setiap dua hingga tiga minggu,” tambahnya.

Greenland sebagai Prioritas Keamanan Nasional

Gedung Putih juga menjelaskan bahwa Presiden Trump memandang akuisisi Greenland sebagai prioritas keamanan nasional.

“Dia ingin Amerika Serikat mengakuisisi Greenland, dan berpikir bahwa hal itu demi keamanan nasional kita yang terbaik,” kata Leavitt.

Trump sendiri telah berulang kali menyatakan tekadnya untuk mengambil alih pulau Arktik tersebut. Ia beralasan bahwa Greenland, yang merupakan wilayah otonom Denmark, memiliki posisi strategis sekaligus kaya mineral penting bagi industri modern.

Menurut Trump, penguasaan Greenland akan memperkuat posisi Amerika Serikat dalam menghadapi tantangan global, terutama di kawasan Arktik yang semakin terbuka akibat mencairnya es.

Sementara itu, sejumlah negara Eropa menunjukkan langkah berbeda. Prancis, Swedia, Jerman, dan Norwegia mengumumkan pada Rabu (14/1) bahwa mereka akan mengerahkan personel militer ke ibu kota Greenland, Nuuk.

Kehadiran pasukan tersebut bertujuan untuk menjalankan misi pengintaian sekaligus memperkuat kehadiran NATO di wilayah yang kini menjadi pusat perhatian dunia.

Wakil Perdana Menteri Greenland, Mute Egede, menyampaikan bahwa kehadiran pasukan NATO akan semakin terlihat dalam beberapa hari mendatang.

“Tentara NATO diperkirakan akan lebih banyak hadir di Greenland mulai hari ini dan beberapa hari mendatang. Perkirakan akan ada lebih banyak penerbangan dan kapal militer,” kata Egede dalam konferensi pers.

Ia menambahkan bahwa pasukan tersebut akan melakukan latihan bersama. “Mereka akan berlatih,” ujarnya.

(*)

Back to top button