Internasional

NATO Disebut Memunggungi Rakyat AS, Trump Pertimbangkan Keluar

POJOKNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah besar untuk menarik AS keluar dari Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Rabu (8/4) menegaskan bahwa Trump kecewa dengan sikap negara-negara Barat yang dianggap gagal menunjukkan solidaritas.

“Saya memiliki kutipan langsung dari Presiden Amerika Serikat tentang NATO. Saya akan menyampaikannya kepada kalian. Mereka sudah diuji, dan mereka gagal,” kata Leavitt, seperti dikutip Al Jazeera.

Leavitt menambahkan bahwa aliansi tersebut tidak mendukung rakyat Amerika dalam beberapa pekan terakhir.

“Cukup menyedihkan karena NATO memunggungi rakyat AS selama enam minggu terakhir, padahal rakyat AS yang membiayai pertahanan mereka,” ujarnya.

Pernyataan keras ini muncul menjelang pertemuan Trump dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Gedung Putih. Situasi tersebut menambah ketegangan antara Washington dan Brussels, terutama terkait kontribusi anggota NATO dalam konflik global.

Trump sudah lama menyuarakan kritik terhadap NATO. Kekecewaan terbaru muncul setelah mayoritas anggota menolak permintaan AS untuk membantu mengamankan kapal di Selat Hormuz, wilayah strategis yang kini menjadi titik panas akibat konflik dengan Iran.

Ini bukan yang pertama kali, sebelumnya Trump melontarkan kritik tajam terhadap aliansi pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Dalam wawancara dengan TIME, Trump menyatakan bahwa ia sangat mempertimbangkan untuk menarik AS keluar dari NATO setelah negara-negara sekutu menolak bergabung secara aktif dalam perang Iran.

“Oh ya, saya akan mengatakan (ini) sudah melampaui tahap pertimbangan ulang. Saya tidak pernah benar-benar terpengaruh oleh NATO,” ujarnya.

Trump bahkan menambahkan, “Saya selalu tahu mereka itu hanya macan kertas dan omong-omong Putin juga tahu itu.”

Peringatan soal Selat Hormuz

Pada pertengahan Maret, Trump memperingatkan negara-negara NATO bahwa masa depan mereka akan menjadi “sangat buruk” jika tidak membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur perdagangan penting bagi minyak dunia.

Namun, negara-negara Eropa merespons dengan sikap hati-hati dan menolak mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.

Trump menilai penolakan itu sebagai bukti lemahnya komitmen sekutu. Ia menegaskan bahwa permintaannya sebenarnya bertujuan untuk menguji keseriusan negara-negara anggota NATO.

Uji Komitmen Sekutu

Dalam wawancara dengan The Telegraph, Trump mengungkapkan bahwa AS selalu hadir untuk sekutu secara otomatis, termasuk dalam kasus Ukraina.

“Kami selalu ada untuk mereka secara otomatis, termasuk dalam kasus Ukraina. Padahal Ukraina bukan masalah kami. Itu adalah cara untuk menguji komitmen—dan kami tetap membantu mereka, bahkan akan selalu membantu mereka. Namun, mereka tidak melakukan hal yang sama untuk kami,” katanya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Trump merasa AS menanggung beban yang tidak seimbang dalam aliansi. Menurutnya, NATO gagal menunjukkan solidaritas ketika kepentingan AS dipertaruhkan.

(redaksi)

Back to top button