Internasional

Mojtaba Khamenei Resmi Ditunjuk Jadi Pimpinan Tertinggi Iran

POJOKNEGERI.com – Iran resmi memasuki era kepemimpinan baru setelah Majelis Ahli menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Penunjukan ini diumumkan pada Senin (9/3), hanya sepekan setelah serangan tersebut memicu eskalasi perang di Timur Tengah.

“Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem sakral Republik Islam Iran,” demikian pernyataan majelis tersebut.

Mojtaba adalah putra kedua Khamenei dan dikenal memiliki pengaruh signifikan atas Iran. Ia juga diyakini punya hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), badan militer paling kuat di negara itu.

Mojtaba juga dipercaya dekat dengan pasukan paramiliter sukarelawan Iran, Basij.

Sosok Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di kota suci Syiah, Mashhad. Ia tumbuh ketika ayahnya aktif dalam gerakan oposisi terhadap Shah Iran sebelum revolusi 1979.

Saat masih muda, Mojtaba juga sempat terlibat dalam perang Iran-Irak.

Ia kemudian menempuh pendidikan agama di Qom, pusat pembelajaran teologi Syiah di Iran, di bawah bimbingan para ulama konservatif. Mojtaba memiliki gelar keagamaan Hojjatoleslam.

Meski memiliki pengaruh besar, ia tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan Republik Islam Iran.

Ia beberapa kali terlihat hadir dalam rapat umum pendukung pemerintah, namun jarang berbicara di depan publik.

Peran Mojtaba selama ini juga memicu kontroversi di Iran. Sejumlah kritikus menolak kemungkinan adanya politik dinasti di negara yang menggulingkan monarki yang didukung Amerika Serikat pada 1979.

Sosok di Balik Layar

Dilansir Reuters, selama bertahun-tahun, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai tokoh berpengaruh di balik layar pemerintahan ayahnya. Ia memperkuat posisinya melalui kedekatan dengan aparat keamanan serta jaringan bisnis besar yang berada di bawah pengaruh mereka.

Mojtaba juga dikenal sebagai penentang kelompok reformis yang ingin membuka hubungan dengan Barat, terutama dalam upaya membatasi program nuklir Iran.

Kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memberi pengaruh besar dalam sistem politik dan keamanan negara tersebut.

Sejumlah sumber menyebut ia membangun pengaruhnya secara bertahap sebagai “penjaga gerbang” ayahnya.

“Ia memiliki basis dukungan yang kuat di dalam IRGC, terutama di kalangan generasi muda yang lebih radikal,” kata Kasra Aarabi, kepala penelitian IRGC di organisasi kebijakan berbasis di Amerika Serikat, United Against Nuclear Iran.

Di Iran, pemimpin tertinggi memiliki kewenangan tertinggi dalam pengambilan keputusan negara, termasuk terkait kebijakan luar negeri dan program nuklir.

Negara-negara Barat selama ini berupaya mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan sipil.

Meski demikian, Mojtaba kemungkinan menghadapi tantangan domestik. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Iran menunjukkan kesiapan untuk menggelar demonstrasi besar menuntut kebebasan yang lebih luas, meski aksi tersebut sering dibalas dengan penindakan keras oleh aparat keamanan.

(*)

Back to top button