POJOKNEGERI.com – Pemerintah menyerahkan pengusutan kasus penembakan yang menewaskan seorang warga di Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
Pemerintah menilai lembaga tersebut memiliki kewenangan undang-undang untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM secara independen sehingga pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) belum terlalu mendesak.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah memberikan ruang kepada Komnas HAM untuk menjalankan fungsi penyelidikan sesuai mandatnya.
“Pemerintah mempersilakan Komnas untuk melakukan penyelidikan sesuai dengan tugas Komnas yang diberikan oleh undang-undang,” kata Yusril, Jumat (6/11).
Pemerintah Nilai Pembentukan TGPF Belum Mendesak
Yusril menyatakan pemerintah belum melihat kebutuhan mendesak untuk membentuk TGPF guna mengusut insiden tersebut.
Menurutnya, Komnas HAM memiliki dasar hukum dan kewenangan untuk melakukan penyelidikan tanpa harus menunggu pembentukan tim khusus oleh pemerintah.
“Pemerintah menganggap belum perlu membentuk satu TGPF, Tim Gabungan Pencari Fakta, itu enggak perlu ya,” ujarnya.
Yusril juga membandingkan langkah pemerintah dalam menangani kasus Pidie dengan penanganan demonstrasi yang berujung kerusuhan pada Agustus lalu.
“Kemarin pun saya mendapat pertanyaan hal yang sama ketika terjadi demonstrasi yang berujung kerusuhan Agustus yang lalu. Pada waktu itu saya juga enggak setuju dan kita serahkan Komnas, silakan Komnas melakukan penyelidikan dan Komnas melakukan tugasnya,” lanjut Yusril.
Ia meminta masyarakat dan seluruh pihak menahan diri serta tidak terpancing emosi dalam menyikapi peristiwa tersebut. Pemerintah berharap proses penyelidikan dapat berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Bentrokan Berawal dari Persoalan Bendera
Sebelumnya, bentrokan melibatkan prajurit TNI dan warga terjadi di Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, saat masyarakat menggelar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Insiden bermula ketika sejumlah prajurit TNI hendak menurunkan bendera bulan bintang yang terpasang di sekitar musala. Namun, warga menghadang tindakan tersebut hingga situasi berkembang menjadi bentrokan.
Peristiwa itu mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan 13 orang lainnya mengalami luka-luka.
(*)




