Iran Tingkatkan Siaga Keamanan di Tengah Gelombang Demonstrasi

POJOKNEGERI.COM – Gelombang demonstrasi di Iran terus meluas dalam beberapa hari terakhir. Massa melakukan aksi unjuk rasa di sejumlah kota besar, termasuk Teheran. Aktivis dan media internasional melaporkan bahwa aparat keamanan menghadapi tekanan besar dalam mengendalikan situasi, meskipun pemerintah Iran hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait kondisi keamanan nasional secara menyeluruh.
Media luar negeri menyebut demonstrasi terjadi di kota-kota seperti Teheran, Isfahan, Mashhad, Qom, Shiraz, dan Karaj. Sejumlah aktivis mengklaim aparat keamanan sempat terdesak di beberapa lokasi. Namun, pihak luar belum dapat memverifikasi informasi tersebut secara independen karena pemerintah membatasi akses komunikasi dari dalam negeri Iran.
Internet Dibatasi, Informasi Sulit Diverifikasi
Sejak akhir pekan lalu, pemerintah Iran memberlakukan pembatasan internet secara luas. Langkah ini membuat arus informasi dari dalam negeri sangat terbatas. Kondisi tersebut menyulitkan media internasional dan organisasi kemanusiaan untuk memverifikasi situasi di lapangan secara akurat.
Aktivis Iran di luar negeri menyebut pemutusan internet bertepatan dengan meningkatnya intensitas demonstrasi. “Kami menerima banyak laporan, tetapi kami tidak bisa memverifikasi semuanya,” ujar seorang aktivis hak asasi manusia yang dikutip media Barat.
Pemerintah Iran sendiri belum menjelaskan secara rinci alasan pembatasan internet, selain menyebutnya sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas dan keamanan nasional.
Sejumlah organisasi aktivis mengklaim bentrokan dalam demonstrasi menewaskan ratusan orang. Mereka menyusun angka tersebut dari laporan saksi mata, tenaga medis, dan relawan. Namun, pemerintah Iran belum mengonfirmasi jumlah korban jiwa itu.
Beberapa media internasional mengutip kesaksian dokter dan staf rumah sakit di Teheran yang melaporkan lonjakan jumlah pasien dengan luka tembak. Seorang dokter, yang identitasnya dirahasiakan, mengatakan kepada media asing bahwa beberapa rumah sakit mencatat puluhan hingga ratusan korban dalam satu malam. Pihak luar belum dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.
Media internasional juga melaporkan bahwa rumah sakit kekurangan tenaga medis spesialis, terutama dokter bedah saraf dan ortopedi, akibat tingginya jumlah korban luka.
Peran Garda Revolusi Disorot
Dalam situasi yang semakin tegang, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menempatkan Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam status siaga tinggi. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut menunjukkan kekhawatiran pemerintah terhadap potensi pembelotan aparat keamanan reguler.
Beberapa video yang beredar di media sosial—yang keasliannya belum terverifikasi—menunjukkan aparat kepolisian tidak melakukan tindakan represif terhadap massa demonstran. Namun, pemerintah Iran belum menanggapi video tersebut secara resmi.
Para analis menilai keterlibatan IRGC menandai fase baru penanganan demonstrasi, mengingat pasukan tersebut selama ini berperan strategis dalam menjaga stabilitas rezim.
Dalam sejumlah video yang beredar luas, demonstran membawa bendera Iran pra-revolusi 1979 bergambar singa dan matahari. Sebagian pengamat menilai simbol tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap sistem pemerintahan saat ini.
Selain itu, demonstran juga mengangkat foto Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran. Meski demikian, para ahli menilai dukungan terhadap Pahlavi di dalam negeri masih menjadi perdebatan dan belum dapat disimpulkan sebagai arus utama gerakan protes.
Banyak demonstran menuntut reformasi politik, kebebasan sipil, dan perbaikan ekonomi di tengah krisis yang dipicu inflasi dan melemahnya mata uang rial.
Reaksi Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyoroti perkembangan situasi di Iran. Dalam pernyataan publiknya, Trump mengatakan pihaknya “memantau situasi dengan sangat cermat.” Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak berniat mengirim pasukan, tetapi membuka kemungkinan tindakan lain jika aparat terus melakukan kekerasan terhadap warga sipil.
Pernyataan tersebut memicu beragam reaksi di tingkat internasional. Sejumlah pengamat memperingatkan bahwa intervensi asing berisiko memperumit situasi dan justru memperkuat narasi pemerintah Iran tentang campur tangan pihak luar.
Kekhawatiran Eskalasi Lebih Lanjut
Sejarah mencatat bahwa gelombang protes besar di Iran pada 2009, 2019, dan 2022 berakhir dengan penindakan keras oleh aparat keamanan. Sejumlah pengamat menilai skenario serupa masih mungkin terjadi, mengingat ketimpangan kekuatan antara aparat bersenjata dan demonstran sipil.
Di sisi lain, aktivis melaporkan jumlah peserta unjuk rasa terus bertambah meski risiko meningkat. “Banyak warga tetap turun ke jalan meskipun ada ancaman dan pembatasan informasi,” kata seorang pengamat Timur Tengah.
Hingga kini, situasi di Iran terus berkembang cepat. Komunitas internasional menyerukan penahanan diri, dialog, serta perlindungan warga sipil, sembari menunggu klarifikasi resmi dari pemerintah Iran terkait kondisi keamanan dan jumlah korban sebenarnya.
(*)


