Harga Indium Cetak Rekor Tertinggi dalam Satu Dekade

POJOKNEGERI.com – Harga logam indium melonjak signifikan sepanjang awal 2026 dan masuk dalam jajaran komoditas dengan kinerja terbaik tahun ini. Kenaikan tajam terjadi di tengah pasokan global yang terbatas, sementara kebutuhan dari sektor elektronik dan energi bersih terus meningkat.
Berdasarkan data Refinitiv, harga indium pada akhir Januari 2026 tercatat sekitar US$525 per kilogram. Dengan asumsi kurs Rp16.825 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp9,25 juta per kilogram atau kurang lebih Rp9,25 miliar per ton. Level ini menjadi yang tertinggi sejak 2015 dan menandai rekor dalam sepuluh tahun terakhir.
Sementara itu, data Trading Economics menunjukkan harga indium di pasar China telah menyentuh 4.450 yuan per kilogram, atau setara sekitar Rp10,88 juta per kilogram. Secara bulanan, harga tercatat melonjak sekitar 27 persen, sedangkan secara tahunan kenaikannya mendekati 70 persen.
Kenaikan tajam ini terjadi ketika pasokan global relatif terbatas, sementara industri elektronik tetap agresif menyerap material tersebut untuk kebutuhan produksi.
Dipicu Spekulasi dan Pasokan Ketat
Indium, logam yang digunakan dalam layar sentuh, semikonduktor canggih, dan teknologi surya generasi baru, kini mencapai harga tertinggi dalam lebih dari satu dekade di pasar Barat. Sumber pasar menyebutkan, lonjakan ini juga dipicu oleh aktivitas spekulatif di salah satu bursa di China serta kondisi pasokan yang semakin ketat.
Pasar indium tergolong kecil dibandingkan komoditas logam utama lain, namun memiliki nilai strategis tinggi. Struktur produksinya pun terpusat di Asia.
Menurut United States Geological Survey (USGS), China menguasai sekitar 70 persen produksi indium olahan global pada 2024. Dominasi tersebut menjadikan pasar sangat sensitif terhadap kebijakan dan dinamika produksi di negara tersebut.
Data bea cukai menunjukkan ekspor indium mentah China turun lebih dari 23 persen secara bulanan pada Desember 2025 menjadi 22,72 metrik ton. Penurunan ekspor ini memperketat pasokan di pasar internasional.
Selain China, Korea Selatan menyumbang sekitar 17 persen dari total produksi global tahun lalu yang mencapai 1.080 ton. Produksi juga berasal dari Jepang, meski dalam skala lebih kecil.
Cristina Belda, analis senior di Argus, mengatakan kepada Reuters bahwa pasokan indium mentah yang ketat merupakan masalah struktural jangka panjang.
“Pasokan indium mentah yang ketat adalah masalah struktural jangka panjang, yang semakin diperparah oleh kebijakan perlindungan lingkungan Tiongkok yang makin ketat,” ujarnya.
Bergantung pada Produksi Seng
Berbeda dengan logam utama seperti nikel atau tembaga, indium tidak ditambang secara langsung. Logam ini terutama diperoleh sebagai produk sampingan dari pemrosesan seng dan diekstraksi dari residu peleburan.
Artinya, peningkatan produksi indium sangat bergantung pada aktivitas industri seng global. Jika produksi seng tidak bertambah, maka suplai indium juga sulit meningkat.
Julia Khandoshko, CEO broker Eropa Mind Money, menilai harga indium berpotensi terus naik dalam beberapa tahun ke depan.
“Jika melihat ekstraksi seng, Tiongkok mengendalikan sebagian besar proses pengolahannya. Dalam beberapa tahun ke depan, harga indium diperkirakan terus meningkat secara stabil, karena pasokannya tidak elastis,” ujarnya.
Ia menambahkan, indium merupakan bahan baku kritis dengan konsumsi yang terus meningkat, sementara pasokan tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan.
Didorong Energi Bersih dan Chip Canggih
Permintaan indium saat ini didukung oleh pertumbuhan teknologi energi bersih dan industri semikonduktor. Sekitar separuh produksi global digunakan untuk membuat indium tin oxide (ITO), material penghantar listrik yang transparan.
ITO dipakai dalam layar sentuh, televisi layar datar, panel surya, hingga berbagai perangkat elektronik modern. Selain itu, senyawa indium juga menjadi komponen penting dalam transistor dan mikrochip berperforma tinggi.
Kebutuhan meningkat seiring ekspansi produksi kendaraan listrik, perangkat pintar, serta teknologi energi surya efisiensi tinggi.
Pada 15 Januari lalu, Defense Logistics Agency (DLA) Amerika Serikat menerbitkan permintaan penawaran untuk membeli hingga 125 juta dollar AS ingot indium kemurnian tinggi guna kebutuhan pertahanan. Langkah ini menegaskan status indium sebagai material strategis.
Logam Langka dengan Cadangan Terbatas
Indium jarang muncul dalam pembahasan komoditas arus utama. Nama logam ini lebih dikenal di kalangan industri elektronik dan material maju. Indium merupakan logam lunak berwarna perak yang stabil di udara dan air.
Unsur ini ditemukan pada abad ke-19 oleh peneliti Jerman yang mengamati garis spektrum berwarna nila, yang kemudian menjadi asal nama indium.
Cadangan indium tergolong kecil. Kandungannya di kerak bumi diperkirakan hanya sekitar 0,1 bagian per juta. Produksi komersial sepenuhnya bergantung pada pemurnian bijih seng dan logam dasar lain seperti timbal, tembaga, serta besi.
Struktur produksi yang terpusat dan sifatnya sebagai produk sampingan membuat pasokan sulit merespons lonjakan permintaan dalam waktu singkat. Kondisi inilah yang mendorong harga melonjak tajam ketika permintaan global tetap tinggi.
Sinyal Baru di Pasar Material Teknologi
Lonjakan harga indium memberi sinyal baru di pasar material teknologi global. Industri layar elektronik dan energi surya berpotensi menghadapi kenaikan biaya bahan baku apabila tren ini berlanjut.
Pasar yang relatif kecil namun strategis ini kini mulai masuk radar pelaku pasar komoditas global. Dalam jangka panjang, dinamika indium diperkirakan akan semakin dipengaruhi oleh transisi energi, perkembangan semikonduktor, serta kebijakan industri di Asia Timur.
Jika permintaan terus meningkat tanpa diimbangi ekspansi produksi seng secara signifikan, harga indium berpotensi bertahan di level tinggi atau bahkan melanjutkan reli.
Logam yang selama ini jarang dibahas tersebut kini menjadi salah satu komoditas paling mencolok pada awal 2026.
(*)
