Nasional

Gunung Semeru Erupsi, Statusnya Naik ke Level Awas

POJOKNEGERI.COM – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi dengan erupsi dahsyat pada Rabu sore, 19 November 2025, sekitar pukul 16.00 WIB.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, kolom letusan teramati menjulang hingga 2.000 meter di atas puncak gunung, atau setara 5.676 meter di atas permukaan laut.

Letusan disertai suara gemuruh dan lontaran material vulkanik yang terlihat jelas dari sejumlah wilayah di Kabupaten Lumajang.

Awan panas guguran meluncur ke arah tenggara, mengikuti aliran sungai Besuk Kobokan, yang selama ini menjadi jalur utama aliran lahar dan material vulkanik Semeru.

“Awan panas yang terjadi merupakan awan panas yang berlangsung secara beruntun, bukan kejadian tunggal. Awan Panas masih berlangsung dengan amplitude maksimum 37 mm hingga laporan ini dibuat,” tulis PVMBG dalam rilisnya.

Dalam periode pengamatan, jumlah gempa yang terekam menunjukkan aktivitas kegempaan di Gunung Semeru masih tinggi, terutama gempa letusan, guguran, dan harmonik. PVMBG menegaskan bahwa peningkatan kejadian gempa guguran berkorelasi dengan pengamatan visual, di mana guguran lava pijar semakin intensif terjadi ke arah Besuk Kobokan.

“Aktivitas G. Semeru memperlihatkan bahwa aktivitas erupsi dan guguran lava masih terjadi, namun secara visual jarang teramati karena terkendala dengan kondisi cuaca,” tulisnya.

“Dalam periode ini jumah gempa yang terekam menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di G. Semeru masih tinggi, terutama gempa Letusan, Guguran dan Harmonik,” ujarnya lagi.

Status Gunung Semeru Naik ke Awas

Hasil analisis deformasi menunjukkan pola relatif stabil, sehingga tidak ada indikasi peningkatan tekanan dari bagian dalam tubuh gunung. Namun, nilai variasi kecepatan relatif (dv/v) menunjukkan pola penurunan sejak pertengahan Oktober 2025. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan tekanan di dekat permukaan tubuh gunungapi, yang berpotensi memicu erupsi lebih lanjut.

“Terjadi peningkatan kejadian Gempa Guguran dan berkorelasi dengan pengamatan visual, yang teramati bahwa kejadian guguran lava pijar semakin intensif terjadi ke arah Besuk Kobokan. Gempa-gempa yang terekam mengindikasikan masih adanya supply dari bawah permukaan G. Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan hembusan,” tandasnya

“Nilai variasi kecepatan relatif (dv/v) menunjukkan pola penurunan sejak pertengahan Oktober 2025 mengindikasikan adanya peningkatan tekanan di dekat permukaan tubuh gunungapi,” pungkasnya.

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi, PVMBG resmi menaikkan status aktivitas Gunung Semeru dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) terhitung mulai 19 November 2025 pukul 17.00 WIB.

“Tingkat aktivitas G. Semeru dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas),” tulis dalam rilisnya.

Rekomendasi

1. Tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 8 km dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 13 km dari puncak.
2. Tidak beraktivitas dalam radius 2,5 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

(*)

Back to top button