Politik
Sedang tren

Gerindra Samarinda Perkuat Basis Politik Jelang 2029, Helmi Abdullah Siap Ambil Peran Strategis

POJOKNEGERI.COM — Partai Gerindra Kaltim menegaskan kembali posisi Kota Samarinda sebagai pusat kekuatan politiknya di Kalimantan Timur. 

Penegasan ini disampaikan Ketua DPC Gerindra Samarinda, Helmi Abdullah usai Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gerindra Kaltim.

Helmi Abdullah bahwa ibu kota provinsi Kaltim merupakan “lumbung suara paling stabil dan paling besar” bagi partai berlambang garuda tersebut.

Rakerda Gerindra Kaltim ini memperlihatkan bagaimana partai menata ulang struktur dan strategi jelang kontestasi politik 2029.

Dalam forum tersebut, Helmi tampil sebagai salah satu figur kunci yang mendapat sorotan, terutama karena kontribusinya dalam mengangkat dominasi Gerindra di Samarinda dalam satu dekade terakhir.

Perjalanan Panjang Gerindra Samarinda

Helmi menguraikan perjalanan panjang pembangunan kekuatan Gerindra di Samarinda. Ketika ia pertama kali masuk sebagai anggota DPRD kota, Gerindra hanya menempati lima kursi. Kini, setelah Pemilu 2024, Gerindra menempati sembilan kursi, menjadikannya salah satu partai paling dominan di daerah ini.

“Capaian ini bukan hasil instan. Samarinda adalah basis suara terbesar Gerindra di Kaltim, dan harus terus kita pertahankan,” tegasnya.

Bagi Helmi, peningkatan jumlah kursi tersebut merupakan bukti nyata bahwa partai berhasil membangun kepercayaan publik melalui kerja nyata kader di lapangan.

Ia menyebut struktur partai dan jaringan akar rumput memainkan peran sentral dalam mengamankan posisi Gerindra sebagai salah satu kekuatan utama di Samarinda. Tidak berhenti di sembilan kursi, ia menyampaikan target ambisius untuk Pemilu 2029.

“Untuk tahun 2029, targetnya 11 kursi. Itu realistis melihat tren suara dan kerja struktur saat ini,” ujarnya.

Regenerasi Kepemimpinan Lokal

Dalam Rakerda ini, Gerindra mulai memetakan figur strategis yang bakal bertarung pada pemilihan legislatif maupun eksekutif 2029. Forum ini tidak hanya menyusun strategi pemenangan, tetapi juga mengidentifikasi regenerasi kepemimpinan lokal.

Helmi menyebut pemetaan ini penting agar Gerindra tidak sekadar mempertahankan kekuatan, tetapi juga mempersiapkan kader yang mampu mengambil peran eksekutif ketika peluang terbuka.

“Rakerda ini memang untuk konsolidasi. Tapi juga pemanasan mesin partai. Kita tidak boleh terlambat mempersiapkan siapa yang akan maju di 2029,” katanya.

Samarinda, sebagai barometer politik Kaltim, menjadi prioritas dalam pemetaan tersebut. Menurut Helmi, figur-figur potensial sudah mulai digarap secara serius oleh struktur daerah untuk memastikan kesinambungan kekuatan partai.

Salah satu isu yang mengemuka di Rakerda adalah dorongan kepada Helmi Abdullah untuk maju sebagai calon Wali Kota Samarinda pada Pilkada 2029. Dengan masa jabatan Wali Kota Andi Harun — yang juga kader Gerindra — yang akan berakhir setelah dua periode, partai kini mulai menyiapkan figur penerus.

Helmi tidak menampik bahwa banyak kader, simpatisan, dan unsur internal yang memberikan dukungan kepadanya untuk melanjutkan kepemimpinan Gerindra di Samarinda

“Pak Andi Harun sudah dua periode. Artinya harus ada kader yang melanjutkan. Kalau DPP menugaskan, saya siap,” tegasnya.

Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa Gerindra tengah menyiapkan transisi kepemimpinan yang mulus di Samarinda, dengan Helmi sebagai figur paling kuat sejauh ini. Kehadiran dukungan struktural dari tingkat kota hingga provinsi memperkuat peluang itu.

Helmi menekankan bahwa kekuatan Gerindra di Samarinda bukan sekadar persoalan jumlah kursi, tetapi juga kemampuan menciptakan stabilitas politik dan kesinambungan program. Ia menyebut selama kepemimpinan Andi Harun, Gerindra telah dekat dengan isu pelayanan publik, pembangunan infrastruktur kota, dan reformasi birokrasi.

Jaga Dominasi Politik di Samarinda

Dengan modal itu, Helmi yakin Gerindra memiliki kesempatan besar untuk menjaga dominasi politik di Samarinda dalam dua kontestasi sekaligus, legislatif dan pilkada.

“Samarinda pusat pergerakan politik. Apa yang terjadi di kota ini mempengaruhi peta politik Kaltim secara keseluruhan,” ujarnya.

Menurutnya, kesolidan struktur partai di Samarinda juga telah terbukti melalui berbagai agenda politik lima tahun terakhir. Mulai dari penguatan ranting hingga meningkatkan intensitas turun ke masyarakat, Gerindra mampu menjaga ritme kerja politik sepanjang tahun.

Rakerda kali ini juga dibaca sebagai momentum memperkuat regenerasi kepemimpinan partai. Helmi mengakui bahwa persaingan politik 2029 tidak akan mudah, sehingga kader harus dipersiapkan lebih matang sejak dini.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan popularitas sesaat. Kader harus siap bekerja di legislatif dan eksekutif dengan kualitas baik,” ujarnya.

Dengan sistem kerja kolektif dan koordinasi intens antara DPC Samarinda, DPD Kaltim, dan DPP, Gerindra berharap dapat mempertahankan posisinya sebagai partai dominan di ibu kota provinsi. Termasuk menjaga kestabilan politik pasca-2029 jika terjadi pergantian kepemimpinan daerah.

Gerindra Samarinda kini berada dalam posisi yang kokoh. Dengan capaian sembilan kursi, potensi menambah menjadi sebelas kursi, serta persiapan transisi kepemimpinan jelang Pilkada 2029, partai ini menegaskan dirinya sebagai kekuatan politik yang tidak bisa diabaikan.

“Kami solid. Kami siap bekerja. Yang penting perintah partai jelas dan kita jalankan,” tutup Helmi.

Dengan konsolidasi yang menguat di semua lini, Samarinda kembali menegaskan diri sebagai pusat kekuatan Gerindra di Kalimantan Timur—sekaligus panggung utama manuver menuju 2029.

(tim redaksi)

Artikel Terkait

Back to top button