
POJOKNEGERI.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah menerima penghargaan perdamaian terbaru dari Federasi Sepakbola Internasional (FIFA). Dalam sebuah seremoni megah di Kennedy Center, Washington DC, Trump mendapat FIFA Peace Prize oleh Presiden FIFA Gianni Infantino. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi atas upaya Trump dalam mempromosikan perdamaian dan persatuan global.
Acara penyerahan penghargaan berlangsung pada Jumat (5/12) waktu setempat, bertepatan dengan pengundian Piala Dunia 2026. Infantino secara langsung menyerahkan trofi emas, sertifikat, dan sebuah medali khusus kepada Trump. Sang Presiden AS tampak tersenyum lebar, bahkan segera mengalungkan medali tersebut ke lehernya sambil berkata, “Saya akan memakainya sekarang juga.”
Trump menyebut penghargaan itu sebagai salah satu kehormatan terbesar dalam hidupnya.
“Terima kasih banyak. Ini sungguh merupakan salah satu kehormatan besar dalam hidup saya,” ujarnya penuh semangat.
Ia menambahkan bahwa penghargaan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas upaya nyata yang menurutnya telah menyelamatkan jutaan nyawa. “Dunia sekarang menjadi tempat yang lebih aman,” tegasnya.
Penerimaan penghargaan ini tidak mengejutkan banyak pihak. Infantino terkenal menjalin hubungan erat dengan Trump, bahkan lebih sering mengunjungi Gedung Putih daripada pemimpin dunia lainnya sejak Trump kembali menjabat pada Januari lalu.
“Dan di luar penghargaan, Gianni dan saya sedang mendiskusikan hal ini, kita telah menyelamatkan jutaan nyawa. Dunia sekarang menjadi tempat yang lebih aman,” ujarnya.
Kedekatan keduanya menimbulkan spekulasi bahwa penghargaan ini sarat muatan politik, meski FIFA menegaskan bahwa penghargaan perdamaian tahunan tersebut untuk sosok yang membawa “harapan bagi generasi mendatang.”
Infantino dalam pernyataannya menyebut Trump sebagai tokoh dengan tindakan luar biasa dalam mempromosikan perdamaian. “Ada juga medali indah untuk Anda yang bisa Anda pakai ke mana pun Anda ingin pergi,” katanya sambil menyerahkan medali.
Ambisi Nobel Perdamaian
Trump selama ini kerap menegaskan pantas menerima Nobel Perdamaian. Ia mengklaim telah berperan dalam mengakhiri delapan konflik dalam setahun terakhir, termasuk gencatan senjata rapuh di Gaza. Namun, Komite Nobel Norwegia bulan lalu justru memberikan Nobel Perdamaian kepada pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado. Keputusan itu sebagai pukulan bagi ambisi Trump, sehingga penghargaan dari FIFA dipandang sebagai kompensasi simbolis.
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump aktif menempatkan diri sebagai mediator dalam sejumlah konflik. Ia bahkan membentuk “dewan perdamaian” khusus untuk Gaza yang sedang perang. Infantino turut mendampingi Trump dalam beberapa perjalanan, termasuk ke Mesir dan Malaysia, menghadiri seremonial penandatanganan perjanjian damai yang sebagai hasil mediasi Trump.
Meski demikian, klaim Trump menuai kontroversi. Banyak pihak menilai gencatan senjata yang ia fasilitasi masih rapuh dan belum menyelesaikan akar konflik, terutama dalam perang Rusia–Ukraina yang hingga kini belum berakhir. Namun, bagi pendukungnya, penghargaan FIFA ini menjadi bukti pengakuan internasional atas kiprah Trump di luar ranah politik tradisional.
Simbolisasi Politik dan Olahraga
Penghargaan perdamaian dari FIFA menimbulkan perdebatan luas. FIFA selama ini sebagai organisasi olahraga, bukan lembaga politik atau diplomasi. Pemberian penghargaan kepada seorang presiden negara besar menimbulkan pertanyaan tentang batas antara olahraga dan politik. Sebagian pengamat menilai langkah ini sebagai upaya Infantino memperkuat hubungan dengan Trump, terutama menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Namun, bagi Trump, momen ini jelas menjadi panggung penting. Dengan senyum lebar dan retorika khasnya, ia berhasil mengubah seremoni olahraga menjadi ajang pengakuan politik. “Gianni dan saya sedang mendiskusikan hal ini, kita telah menyelamatkan jutaan nyawa,” ucap Trump, seolah menegaskan bahwa sepakbola dan diplomasi bisa berjalan beriringan.
FIFA Peace Prize yang baru diumumkan pada November lalu kini resmi memiliki penerima pertama: Donald Trump. Meski kontroversial, penghargaan ini memperlihatkan bagaimana olahraga dapat dijadikan medium simbolik untuk isu-isu global. Bagi Trump, penghargaan ini bukan hanya medali di leher, melainkan juga amunisi politik untuk memperkuat citra dirinya sebagai “pembawa perdamaian dunia.”
Dengan demikian, seremoni di Kennedy Center bukan sekadar pengundian Piala Dunia, melainkan juga panggung politik internasional
(*)


