DaerahSamarinda
Sedang tren

Cegah Krisis Pangan akibat Kemarau, Pemkot Samarinda Optimalkan Pompa Air dan Operasi Pasar

POJOKNEGERI.com – Kemarau panjang akibat fenomena El Nino mulai menjadi perhatian Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Minimnya pasokan air berpotensi mengganggu produksi pertanian dan berdampak terhadap ketersediaan serta stabilitas harga bahan pangan di masyarakat.

Pemerintah Kota Samarinda mengambil langkah antisipatif untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi. Upaya tersebut melalui penguatan sektor produksi, operasi pasar, hingga optimalisasi penyaluran bantuan pangan.

Perkuat Pengairan Lahan Pertanian

Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, S.Sos., M.Si., mengatakan kondisi kemarau panjang berpotensi menekan hasil produksi pertanian warga.

“Jelas ada dampaknya. Produksi pertanian pasti bisa berkurang karena kondisi kemarau seperti ini,” ujar Marnabas, Senin (21/9/2026).

Menghadapi kondisi tersebut, Pemkot Samarinda bersama Dinas Perdagangan (Disdag) dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapangtani) menjalankan langkah konkret untuk menjaga sektor pertanian tetap produktif.

Pemkot Samarinda memperkuat dukungan terhadap petani dengan menyediakan mesin pompa air. Peralatan tersebut membantu petani mengalirkan air ke sawah, ladang, dan lahan pertanian lainnya yang terdampak kekeringan.

“Kami beli hampir 60 atau 70 sudah mesin pompa untuk mengairi sawah, ladang, dan sebagainya,” katanya.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga produksi pangan dari sisi hulu. Dengan ketersediaan air yang lebih terjaga, pemerintah berharap petani tetap dapat mempertahankan produksi meski menghadapi musim kemarau berkepanjangan.

Operasi Pasar Jaga Stabilitas Harga

Pemkot Samarinda juga memperkuat langkah dari sisi hilir. Melalui Disdag, pemerintah rutin mendorong pelaksanaan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok penting (bapokting).

Operasi pasar menyasar sejumlah kebutuhan utama masyarakat, seperti beras, minyak goreng, dan bahan makanan lainnya. Pemerintah juga memaksimalkan penyaluran bantuan dari Badan Urusan Logistik (Bulog) yang berasal dari pemerintah pusat agar segera diterima masyarakat yang membutuhkan.

Marnabas menegaskan, pemerintah menjalankan berbagai langkah tersebut untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus mencegah kepanikan masyarakat dalam berbelanja.

“Semua langkah kita lakukan untuk mencegah yang paling berbahaya, yaitu panic buying. Stok barang sebenarnya masih ada, tetapi masyarakat bisa terburu-buru membeli karena khawatir kehabisan,” pungkasnya.

(*)

Back to top button