Nasional

BNPB Siapkan Tenda Darurat untuk Pembelajaran di Lokasi Bencana Sumatera

POJOKNEGERI.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bergerak cepat menyiapkan tenda darurat sebagai sarana pembelajaran di lokasi bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Langkah ini agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan meskipun sebagian sekolah masih dalam tahap pembersihan.

BNPB menargetkan sejumlah sekolah sudah bersih dan layak mulai Senin, 5 Januari 2026. Namun, bagi sekolah yang belum selesai pembersihanya, tenda darurat akan menjadi solusi sementara.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa aparat gabungan terus bekerja membersihkan sekolah-sekolah, baik sekolah umum maupun madrasah.

“Tetapi mungkin ada kondisi-kondisi beberapa sekolah mungkin masih dalam tahap pembersihan. Sementara waktu kita akan mengoptimalkan tenda-tenda sementara untuk proses belajar mengajar,” kata Abdul dalam konferensi pers, Sabtu (3/1).

Pernyataan ini menunjukkan komitmen BNPB untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan akses pendidikan meski dalam situasi darurat.

Operasi pembersihan sekolah secara intensif oleh aparat gabungan, relawan, dan masyarakat.

BNPB menekankan bahwa pendidikan menjadi salah satu prioritas dalam masa tanggap darurat, karena anak-anak membutuhkan ruang belajar yang aman dan layak. Dengan adanya tenda darurat, proses belajar mengajar tidak terhenti, meskipun kondisi sekolah belum sepenuhnya pulih.

Data Korban Bencana

Selain fokus pada pendidikan, BNPB juga terus memperbarui data korban bencana.

Abdul Muhari melaporkan bahwa per Sabtu, 3 Januari 2026, jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor di Sumatra bertambah 10 orang dari Aceh Utara, sehingga total korban meninggal dunia mencapai 1.167 jiwa. Ia menyampaikan,

“Hari ini ada penambahan dari Aceh Utara sebanyak 10 jiwa. Sehingga per hari ini 3 Januari 2026 total korban jiwa meninggal dunia menjadi 1.167 jiwa,” ujarnya

Data ini menunjukkan betapa besar dampak bencana yang melanda wilayah tersebut.

BNPB juga mencatat masih ada 165 orang hilang akibat bencana. Proses pencarian terus tim gabungan lakukan dengan harapan menemukan korban yang belum terdata. Sementara itu, jumlah pengungsi mengalami penurunan signifikan dalam dua hari terakhir. Data BNPB mencatat pengungsi sebanyak 257.780 orang. Abdul Muhari menjelaskan,

“Ini menunjukkan di samping progres pembersihan kawasan saat ini sangat intensif, juga aparat gabungan, masyarakat, relawan dan segenap entitas yang terlibat, ini juga mulai membersihkan kawasan pemukiman, khususnya rumah yang terdampak sedang hingga ringan,” jelasnya

Penurunan jumlah pengungsi terjadi karena sebagian masyarakat sudah kembali ke rumah masing-masing setelah pembersihan.

Namun, masyarakat yang rumahnya rusak berat atau hanyut akibat banjir dan longsor masih bertahan di tempat pengungsian. BNPB menegaskan bahwa pendataan terus dilakukan untuk kebutuhan hunian sementara maupun hunian tetap. Abdul Muhari menambahkan,

“Ini akan update terus pendataan untuk kebutuhan hunian sementara, DTH ataupun rekapitulasi untuk hunian tetap,” pungkasnya

Langkah BNPB ini menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berfokus pada evakuasi dan penyelamatan, tetapi juga pada pemulihan kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, hunian, dan pemukiman.

Dengan keterlibatan aparat gabungan, relawan, dan masyarakat, proses pemulihan diharapkan berjalan lebih cepat.

Tenda darurat yang disiapkan menjadi simbol komitmen pemerintah untuk memastikan anak-anak tetap belajar meski dalam kondisi sulit, sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas di tengah bencana.

(*)

Back to top button