POJOKNEGERI.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda terus mendorong penguatan sistem drainase yang terintegrasi sebagai bagian dari upaya pemerintah kota dalam mengendalikan banjir.
Pembangunan saluran air dinilai perlu direncanakan secara menyeluruh agar setiap aliran memiliki jalur pembuangan yang jelas dan berfungsi optimal.
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mendorong penataan drainase yang lebih terarah, mulai dari kawasan perkotaan hingga wilayah pinggiran.
Menurut Deni, pembangunan saluran air tidak cukup hanya berfokus pada pengerjaan fisik. Setiap saluran harus terhubung dengan sistem pembuangan utama yang jelas, sehingga aliran air dapat bergerak menuju titik akhir tanpa menimbulkan persoalan baru.
“Kami ingin seluruh drainase yang dibangun saling terintegrasi. Saat ini, aliran pembuangan air pada dasarnya masih mengandalkan sungai, terutama yang bermuara ke Sungai Mahakam,” ujar Deni.
Ia menegaskan, bidang Sumber Daya Air (SDA) pada Dinas PUPR perlu memetakan jaringan drainase secara menyeluruh, termasuk memastikan arah aliran menuju Sungai Karang Mumus untuk kawasan tengah kota dan Sungai Mahakam di wilayah tertentu. Pekerjaan drainase di Pangeran Antasari dan Pasundan, tepatnya di depan BTN, menjadi bagian dari perhatian tersebut.
“blueprint drainase harus benar-benar jelas dan terukur. Tujuannya agar setiap pekerjaan yang dilaksanakan tidak sia-sia dan bisa memberikan hasil maksimal dalam mengatasi genangan,” ujarnya.
Kendati demikian, Deni mengapresiasi perubahan signifikan kondisi lingkungan Kota Samarinda saat ini jika dibandingkan dengan dekade sebelumnya.
Penataan drainase yang intensif terbukti mampu memangkas durasi genangan secara drastis saat intensitas hujan tinggi.
Upaya pengendalian juga diperkuat melalui pembangunan kolam retensi di Pampang, Polder Air Hitam, Polder Gang Indra Antasari, dan Sempaja.
Meski banjir belum dapat dihilangkan sepenuhnya, langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi debit air dan dampaknya bagi masyarakat.
“Banjir di Kota Samarinda memang tidak bisa langsung dihilangkan. Namun, setidaknya berbagai upaya yang telah dilakukan dapat membantu mengurangi dampak banjir,” tandasnya.
(advdprdsmd)




