Prancis Perkuat Arab Saudi Hadapi Houthi, Tegaskan Tak Ikut Perang

POJOKNEGERI.com – Prancis memperkuat pertahanan Arab Saudi ketika serangan kelompok Houthi dari Yaman mulai mengancam infrastruktur dan jalur ekspor energi negara kerajaan tersebut.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan Paris mengirim dukungan militer untuk membantu Riyadh menghadapi serangan rudal dan drone. Namun, ia menegaskan pengerahan tersebut hanya bertujuan mempertahankan wilayah Saudi dan melindungi fasilitas strategis.
Dilansir AFP, Minggu (27/9/2026), pernyataan Barrot muncul setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis mengumumkan pengiriman pasukan, unit radar, serta sistem pertahanan ke Arab Saudi.
Langkah Prancis berlangsung ketika konflik di Yaman kembali memanas. Perang kembali pecah pada Juli setelah gencatan senjata yang bertahan selama bertahun-tahun. Situasi tersebut membuka kembali risiko serangan terhadap wilayah Saudi dan fasilitas vitalnya.
Fasilitas Minyak Menjadi Sasaran
Kelompok Houthi telah berulang kali melancarkan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi. Serangan terbaru juga menyasar instalasi minyak serta terminal minyak utama di Yanbu.
Ancaman terhadap sektor energi menjadi perhatian karena Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak utama dunia. Gangguan terhadap fasilitas produksi maupun terminal ekspor dapat berdampak pada distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.
Riyadh juga menghadapi persoalan jalur pengiriman. Houthi berusaha menerapkan blokade terhadap ekspor energi Saudi yang dialihkan menuju Laut Merah setelah serangan Iran di Selat Hormuz menghambat transit melalui kawasan Teluk.
Arab Saudi sendiri memberikan dukungan militer kepada pasukan pemerintah Yaman dalam konflik melawan Houthi.
Prancis Batasi Keterlibatan Militernya
Di tengah eskalasi tersebut, Paris berusaha membedakan misi pertahanan dari keterlibatan langsung dalam perang. Ketika ditanya apakah bantuan Prancis membuat Paris menjadi mitra Arab Saudi dalam perang melawan Houthi, Barrot membantahnya.
“Sama sekali tidak (ikut peranga). Ini hanya bersifat defensif,” kata Barrot.
“Sejak dimulainya perang (AS-Israel) melawan Iran, kami telah mengerahkan aset militer untuk melindungi sekutu kami, mitra kami,” kata dia.
Barrot menegaskan pengerahan tersebut tidak berarti Prancis akan menjadi pihak yang berperang.
“Apakah itu berarti suatu saat kita dapat dianggap sebagai pihak yang berperang? Tidak pernah,” lanjutnya.
Prancis Akan Kirim Radar dan Pasukan ke Saudi
Sebelumnya, Serangan kelompok Houthi dari Yaman terhadap Pelabuhan Yanbu mendorong Prancis mengambil langkah untuk memperkuat pertahanan salah satu jalur penting ekspor minyak Arab Saudi.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan negaranya akan mengirim personel militer, radar, dan sistem pertahanan ke kawasan pelabuhan tersebut.
Macron menyampaikan rencana itu dalam wawancara pada Kamis (24/9). Menurut dia, pengerahan militer tersebut telah disepakati pemerintah Prancis bersama pihak berwenang Arab Saudi.
“Kita akan mengirimkan sumber daya militer, yaitu tentara, radar, dan sistem pertahanan untuk melindungi lokasi Yanbu di Laut Merah,” kata Macron, seperti dilaporkan Le Monde.
Yanbu memiliki posisi strategis bagi Arab Saudi karena pelabuhan tersebut menjadi jalur pengiriman minyak dalam jumlah besar. Macron mengatakan jalur itu digunakan untuk mengirimkan “beberapa juta barel” minyak.
Kerusakan Pelabuhan Picu Penguatan Pertahanan
Macron mengatakan serangan terhadap Yanbu menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas pelabuhan. Kondisi tersebut membuat Prancis memutuskan membantu Arab Saudi memperkuat perlindungan terhadap lokasi strategis itu.
Namun, Macron menegaskan pengerahan pasukan dan sistem pertahanan Prancis tidak berarti negaranya ikut berperang melawan Houthi.
“Bukan untuk melibatkan diri dalam konflik apa pun, tetapi untuk melindungi lokasi tersebut,” kata dia.
(*)
