Ekonomi

Perang Harga Minyak Rusia-Iran Kian Tajam, Pasar China Jadi Rebutan

POJOKNEGERI.com – Persaingan harga minyak mentah di pasar internasional semakin memanas setelah Rusia dan Iran kembali memangkas harga jual mereka secara agresif.

Langkah ini dilakukan demi mempertahankan dan memperluas pangsa pasar di Asia, terutama China, yang kini menjadi pembeli kunci bagi kedua negara tersebut.

Data perdagangan terbaru menunjukkan minyak Urals asal Rusia dipasarkan dengan diskon sekitar US$12 per barel di bawah harga acuan global Brent.

Sementara itu, Iran menawarkan potongan harga hingga US$11 per barel guna menjaga daya saing di tengah melimpahnya pasokan global.

Volume ekspor yang besar membuat sebagian kargo minyak kedua negara tertahan di perairan internasional.

Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, sekaligus mengindikasikan pembeli yang cenderung menunggu harga lebih rendah sebelum menyerap pasokan tambahan.

Ketergantungan pada Pasar China

Analis pasar energi dari Vortexa, Anna Zhminko, menilai situasi ini menunjukkan ketergantungan yang semakin besar terhadap pasar China.

“Ini menunjukkan ketergantungan yang semakin besar pada China sebagai pasar utama minyak Urals Rusia,” kata Analis Vortexa Anna Zhminko.

Persaingan harga ini muncul setelah India mengurangi pembelian minyak Rusia, sehingga pasokan yang semula dialokasikan ke New Delhi kini bergeser ke pasar China yang lebih kompetitif.

Akibatnya, minyak mentah dalam jumlah besar menumpuk di kapal tankers di perairan Asia, termasuk di Laut Kuning dan Selat Singapura, di mana jutaan barel minyak mengapung tanpa pembeli karena kapasitas pengolahan yang terbatas dan kuota impornya ketat.

Kondisi ini menciptakan stok migas yang mangkrak di laut, sebuah fenomena yang belum pernah terjadi dalam skala serupa dalam beberapa tahun terakhir.

Fenomena menumpuknya minyak di laut ini juga mencerminkan tantangan struktural dalam rantai pasok energi global.

Kapasitas kilang terbesar di China terutama dikuasai oleh perusahaan milik negara yang cenderung menghindari minyak dari negara yang dikenai sanksi, seperti Iran, dan sebagian Rusia, sehingga minyak murah itu hanya diserap oleh kilang swasta kecil yang jumlahnya terbatas.

Situasi ini berdampak ganda Di satu sisi, konsumen global bisa menikmati harga minyak yang relatif lebih murah karena persaingan diskon. Namun di sisi lain, penumpukan stok dan ketidakpastian permintaan memicu tekanan baru terhadap stabilitas pasar energi dunia, yang sudah terguncang oleh ketegangan geopolitik.

(*)

Back to top button