Peran Indonesia di ISF Gaza, Menlu Sugiono Pastikan Tak Ada Operasi Militer

POJOKNEGERI.com – Kiprah diplomasi Indonesia kembali mendapat panggung internasional. Pemerintah menegaskan keterlibatan dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) untuk Gaza sebagai langkah konkret menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan. Tanpa keterlibatan dalam operasi militer ataupun agenda demiliterisasi.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan bahwa mandat ISF sepenuhnya berorientasi pada stabilisasi situasi dan perlindungan masyarakat sipil.
Indonesia mengemban posisi Deputy Commander, menjalankan peran koordinatif dalam kerangka misi perdamaian internasional.
“Karena ini kan bukan kaitannya dengan pengakuan atau ada tidaknya hubungan diplomatik. Ini adalah pasukan yang mendapatkan mandat untuk menjaga perdamaian, terdiri dari berbagai unsur yang tugasnya intinya adalah menjaga situasi,” kata Sugiono di Washington DC pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat.
Lebih lanjut ia mengatakan dalam petunjuk pelaksanaan dari mandat ISF, setiap negara yang berpartisipasi memiliki ruang untuk menyampaikan batasan atau national caveat
Indonesia, kata dia, telah menegaskan batasan tersebut secara jelas.
“National caveat kita juga sudah kita sampaikan ke ISF, kalau kita tidak melakukan operasi militer, kemudian kita tidak melakukan pelucutan senjata, kita tidak melakukan apa yang disebut demiliterisasi,” ujarnya.
Sugiono menambahkan, pasukan perdamaian di Gaza bertugas menjaga masyarakat sipil di kedua belah pihak.
“Yang kita lakukan adalah menjaga masyarakat sipil di kedua belah pihak, kemudian terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan yang ada di sana. Tentu saja ada hal-hal yang sifatnya merupakan rule of engagement yang bisa kita lakukan sebagai pasukan apabila kita diserang dalam rangka mempertahankan diri,” jelasnya.
Rencana Pemerintah Indonesia
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan rencana Indonesia mengirim sekitar 8.000 anggota pasukan perdamaian ke Gaza Palestina.
Ia mengatakan langkah tesebut kini masih dalam tahap pembahasan untuk dipersiapkan.
“Belum, sedang dibicarakan. Tapi ada kemungkinan kita akan kurang lebih di angka 8.000 itu,” kata ujar Prasetyo Hadi kepada wartawan seusai jumpa pers di Stasiun Gambir, Selasa (10/2/2026).
Pria yang dipanggil Pras itu menambahkan pasukan dari Indonesia akan bergabung dengan pasukan perdamaian dari negara lain. Namun dia belum menyebut di mana pasukan Indonesia akan tempatkan.
“Belum. Kita baru mempersiapkan diri saja kalau sewaktu-waktu sudah capai kesepakatan dan kita harus mengirim pasukan perdamaian tentu itu sebagai sebuah komitmen itu akan kita lakukan,” jelasnya.
Pras menegaskan Indonesia berkomitmen untuk mengakui kemerdekaan Palestina. Dia juga menyinggung soal peran di Board of Peace.
“Kan yang pasti adalah berkenaan dengan masalah BOP beserta dengan seluruh turunan teknisnya itu kan ini, kan bagian dari komitmen bangsa kita untuk tentu yang pertama kita menghendaki pengakuan kemerdekaan kepada bangsa Palestina,” ucapnya.
“Yang kedua bagaimana kita melakukan upaya untuk bisa membantu masyarakat di Gaza. Makanya kemudian kita Indonesia beserta dengan 7 negara muslim yang lain memutuskan untuk bergabung di BOP tersebut,” imbuhnya.
Pras berharap bergabungnya Indonesia di Board of Peace dapat meminimalisasi konflik di Gaza. Upaya ini dilakukan agar warga Palestina tidak menderita.
“Setidaknya itu kita berharap akan mengurangi eskalasi konflik yang ada di Gaza sehingga saudara-saudara kita berkurang penderitaannya. Nah dengan sekarang proses tersebut bantuan-bantuan makanan bisa masuk ke Gaza yang ini kita berharap meringankan beban saudara-saudara kita di sana,” ungkap dia.
(*)
