Internasional

Ketegangan dengan Iran Memuncak, AS Kirim Kapal Induk Raksasa ke Timur Tengah

POJOKNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kapal induk USS Gerald R. Ford akan segera dikirim ke Timur Tengah, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran terkait program nuklir negara tersebut.

Langkah ini menandai eskalasi baru dalam hubungan Washington–Teheran yang sedang menjalani negosiasi tidak langsung sejak pekan lalu.

“Kapal itu akan segera berangkat,” ujar Trump kepada wartawan pada Jumat (13/2) waktu setempat.

Ia menegaskan bahwa pengerahan kapal induk terbesar di dunia itu jika pembicaraan nuklir tidak menghasilkan kesepakatan.

“Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya,” tambahnya, seperti pemberitaan AFP, Sabtu (14/2/2026).

USS Gerald R. Ford merupakan kapal induk terbaru dan terbesar dalam armada Angkatan Laut AS.

Kapal ini mampu membawa lebih dari 75 pesawat tempur, dilengkapi sistem radar dan pertahanan mutakhir, serta menampung ribuan personel.

Kehadirannya di kawasan Teluk Persia akan memperkuat kehadiran militer AS, sekaligus menjadi simbol tekanan politik terhadap Iran.

Iran Siap Perang

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Republik Islam Iran selalu menempuh jalur diplomasi sambil tetap mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Kongres Nasional Kebijakan Luar Negeri Republik Islam di Teheran pada Minggu (8/2) waktu setempat, hanya dua hari setelah Iran dan Amerika Serikat mengadakan pembicaraan nuklir tidak langsung di Oman.

Ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir akibat retorika perang dari Washington terhadap Teheran.

Araghchi menekankan bahwa bangsa Iran tidak mencari konflik, tetapi tetap siap berperang untuk menjaga kedaulatan.

“Kita adalah bangsa yang berdiplomasi, kita juga bangsa yang siap berperang; bukan dalam arti kita mencari perang, tetapi… kita siap berperang agar tidak ada yang berani melawan kita,” ujarnya di hadapan peserta kongres.

Ia menambahkan bahwa prinsip utama kebijakan luar negeri Iran adalah martabat, yang berarti menjaga kemerdekaan, menolak dominasi, dan mempertahankan kedaulatan negara.

Diplomat senior itu menegaskan bahwa respons Iran bergantung pada sikap pihak lain.

“Diplomasi akan disambut dengan bahasa yang sama, seperti halnya dengan penggunaan kekuatan dan bahasa penghormatan,” katanya.

Dengan demikian, Iran menempatkan sebagai negara yang fleksibel namun tegas, siap merespons sesuai nada yang mitra internasional gunakan

Program Nuklir Damai

Araghchi juga menyatakan kesiapan Teheran untuk menyelesaikan ambiguitas terkait program nuklir damai. Ia menekankan bahwa diplomasi adalah satu-satunya cara untuk mencapai kesepakatan, karena jalur lain tidak membuahkan hasil.

“Mereka (musuh) membom fasilitas kami, tetapi mereka gagal mencapai hasil yang mereka inginkan. Pengetahuan tidak dapat dihancurkan oleh pemboman; teknologi tidak dapat dihancurkan. Ada teknologi dan ada pengetahuan, jadi tidak ada pilihan selain bernegosiasi,” tegasnya.

Dalam pidatonya, Araghchi menekankan hak resmi Iran atas program energi nuklir damai. Ia menuntut agar hak tersebut dihormati oleh komunitas internasional.

“Selain itu, hak resmi Iran atas program energi nuklir damai memang ada dan negara tersebut menginginkan haknya dihormati,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan atau intimidasi dari pihak luar.

“Saya percaya rahasia kekuatan Republik Islam Iran terletak pada kemampuannya untuk melawan intimidasi, dominasi, dan tekanan dari pihak lain,” katanya.

Pernyataan Araghchi muncul di tengah upaya diplomasi yang terus berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat. Meski pembicaraan di Oman belum menghasilkan terobosan besar, Iran ingin menunjukkan bahwa diplomasi tetap menjadi jalur utama.

Namun, dengan menekankan kesiapan militer, Teheran juga mengirimkan pesan bahwa tekanan atau ancaman tidak akan membuatnya mundur.

Negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat di Oman pada Jumat (6/2) menarik sorotan besar karena banyak pihak menilai hal itu membuka peluang baru setelah ketegangan panjang.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pembicaraan mulai dengan suasana positif.

“Saya pikir ada atmosfer yang baik dan dalam satu kalimat saya bisa bilang itu adalah awal yang baik,” kata Araghchi.

(*)

Back to top button