Tonton Video Langsung Tanpa Membaca Berita
Ekonomi

The Fed Dibawah Tekanan Trump, Kebijakan Moneter AS Bimbang

POJOKNEGERI.COM – Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), menampilkan wajah yang berbeda sepanjang 2025. Lembaga yang selama ini terkenal solid dan konsisten kini menghadapi konflik internal, tekanan politik dari Gedung Putih, kegamangan dalam bersikap, hingga komunikasi kebijakan yang tidak seragam.

Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian global, mengingat dunia memandang The Fed sebagai bank sentral paling berpengaruh. Perannya sebagai pengendali dolar Amerika Serikat membuat setiap keputusan The Fed langsung memengaruhi perekonomian global.

Amerika Serikat dan dunia mengawali 2025 dengan tantangan besar, yakni terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Sejak mulai menjabat pada 20 Januari, Trump bergerak cepat mengubah arah kebijakan, baik di dalam negeri maupun pada tataran global. Perubahan ini turut memengaruhi The Fed sebagai institusi kunci di sektor moneter.

Trump tidak hanya mengubah kebijakan ekonomi, tetapi juga memengaruhi dinamika internal The Fed. Sepanjang tahun, Trump beberapa kali melancarkan serangan terbuka terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, bahkan sempat mengancam akan memecatnya. Tekanan politik tersebut membuat pasar khawatir terhadap independensi bank sentral AS.

Kebijakan Suku Bunga

The Fed mengawali 2025 dengan keputusan menahan suku bunga pada pertemuan akhir Januari. Kebijakan ini berlawanan dengan langkah pemangkasan agresif sebesar 100 basis poin yang dilakukan pada periode September hingga Desember 2024. Setelah itu, The Fed kembali mempertahankan suku bunga hingga lima pertemuan berikutnya atau sampai Juli 2025.

The Fed mengambil keputusan tersebut di tengah tekanan global yang meningkat. Dunia menghadapi dampak kebijakan tarif dagang Presiden Trump yang menuai kritik luas. Banyak pihak berharap The Fed segera memangkas suku bunga untuk menopang pertumbuhan ekonomi global yang terancam melambat. Namun, The Fed memilih bertahan.

Sikap bertahan ini bukan tanpa alasan. The Fed menghadapi persoalan domestik yang kompleks, terutama benturan antara dua mandat utama yang diberikan Kongres Amerika Serikat, yakni mencapai lapangan kerja maksimum dan menjaga stabilitas harga.

Benturan Inflasi dan Tenaga Kerja

Sepanjang setahun terakhir, The Fed menghadapi situasi yang jarang terjadi sejak era stagflasi 1970-an. Pasar tenaga kerja Amerika Serikat memburuk dengan cepat, sementara inflasi tetap tinggi dan sulit turun.

Data terbaru menunjukkan penambahan lapangan kerja melambat signifikan, dengan hanya sekitar 64.000 pekerjaan baru tercipta pada November 2025. Tingkat pengangguran naik menjadi sekitar 4,6 persen, level tertinggi sejak 2021. Sepanjang 2025, perusahaan-perusahaan AS mengumumkan lebih dari 1,17 juta pemutusan hubungan kerja, jumlah tertinggi sejak pandemi.

Di sisi lain, inflasi tetap membandel. Laju inflasi Amerika Serikat berada di kisaran 2,7 hingga 3 persen secara tahunan dari Juni hingga November 2025. Kondisi ini menempatkan The Fed dalam dilema besar.

Alat kebijakan utama The Fed, yakni suku bunga, hanya bisa efektif untuk satu tujuan dalam satu waktu. Menurunkan suku bunga berpotensi mendorong lapangan kerja, tetapi berisiko memperburuk inflasi. Sebaliknya, mempertahankan kebijakan ketat untuk menekan inflasi dapat semakin melemahkan pasar tenaga kerja.

Ketua The Fed Jerome Powell mengakui kompleksitas tersebut. “Anda hanya punya satu alat. Anda tidak bisa melakukan dua hal sekaligus,” ujar Powell dalam konferensi pers usai rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 10 Desember, dikutip CNN International. Ia menyebut kondisi ekonomi saat ini sebagai situasi yang “menantang.”

Situasi semakin rumit ketika pemerintah Amerika Serikat mengalami shutdown selama 45 hari sejak 1 Oktober, yang menjadi rekor terpanjang dalam sejarah. Shutdown ini menunda banyak data ekonomi, sehingga relevansinya menurun dan menyulitkan The Fed dalam mengambil keputusan berbasis data.

The Fed Terbelah

Tekanan ekonomi memicu perbedaan pandangan yang semakin nyata di internal The Fed. Sepanjang 2025, perdebatan arah kebijakan moneter semakin mengemuka, tercermin dari perbedaan suara dalam rapat FOMC.

Pada pertemuan Oktober dan Desember, suara anggota FOMC terbelah. Pada Desember, keputusan diambil melalui pemungutan suara 9-3. Sebagian anggota mendukung pemangkasan suku bunga untuk mencegah pelemahan lebih lanjut di pasar tenaga kerja, sementara yang lain menilai pelonggaran kebijakan berisiko memperparah inflasi.

Keputusan Desember tersebut menjadi momen langka, karena untuk pertama kalinya sejak 2019 jumlah dissenting votes mencapai angka tersebut. Powell menegaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari proses pengambilan kebijakan dan bukan sebuah kesalahan.

Namun, perbedaan pandangan itu semakin tajam karena komunikasi tidak seragam. Powell cenderung menggunakan bahasa ambigu dan sangat bergantung pada data. Sebaliknya, sejumlah pejabat regional The Fed berbicara lebih lugas, baik dengan nada hawkish maupun dovish. Ketidaksinkronan ini kerap membuat pasar salah menafsirkan arah kebijakan jangka pendek The Fed.

Tekanan Politik dan Isu Independensi

Tekanan Presiden Trump terhadap The Fed menjadi faktor tambahan yang mengguncang stabilitas kebijakan moneter Amerika Serikat. Trump secara terbuka menekan The Fed agar segera menurunkan suku bunga dan menyerang Powell secara personal maupun teknis.

Meski Trump tidak sampai memberhentikan Powell, ia memecat Gubernur The Fed Lisa Cook atas dugaan penipuan hipotek, kasus yang masih bergulir di pengadilan dan dijadwalkan disidangkan di Mahkamah Agung awal tahun depan. Selain itu, Gubernur The Fed Adriana Kugler mengundurkan diri pada awal Agustus. Trump kemudian menunjuk Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Stephen Miran untuk menyelesaikan sisa masa jabatan lima bulan.

Rangkaian peristiwa ini menjadikan 2025 sebagai salah satu periode paling penuh gejolak bagi The Fed, baik dari sisi kebijakan, komunikasi, maupun tekanan politik, dengan dampak yang dirasakan tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di seluruh dunia.

(*)

Back to top button