Menkeu Purbaya Sindir PBB Soal Penangkapan Presiden Venezuela

POJOKNEGERI.COM – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan tanggapannya soal penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS).
Purbaya menyoroti lemahnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menghadapi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Ia menegaskan bahwa hukum internasional saat ini terlihat aneh karena ada negara yang bisa menyerang negara berdaulat tanpa konsekuensi berarti.
Purbaya menegaskan bahwa fenomena tersebut menunjukkan lemahnya peran PBB dalam menjaga tatanan dunia.
“Hukum dunia agak aneh sekarang. Jadi kalau kita lihat negara bisa nyerang negara lain yang berdaulat, dan seperti bisa get away dari pengawasan PBB. Jadi PBB-nya amat lemah sekarang,” ujar Purbaya di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (5/1).
Ia mengaku heran dengan kondisi hukum internasional yang tidak mampu memberikan perlindungan terhadap kedaulatan negara.
Menurutnya, situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas lembaga dunia dalam menjaga perdamaian dan keadilan global.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa peristiwa penangkapan Presiden Venezuela tersebut belum memberikan dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Ia mencontohkan salah satunya indeks harga saham gabungan (IHSG) yang justru menunjukkan tren positif pada hari itu.
Selain IHSG, Purbaya juga menilai peristiwa tersebut berpotensi membawa dampak positif terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Agak aneh sebenarnya, tapi itu yang dilihat pasar,” ucapnya.
Serangan ke Venezuela
Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) melancarkan rentetan serangan ke ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1) dini hari. Operasi militer tersebut berujung dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS.
Pemerintah Venezuela menuduh AS melanggar hukum internasional atas serangan tersebut. Kini Maduro telah berada di wilayah AS.
Sedikitnya 40 orang tewas dalam serangan udara AS ke Venezuela. Informasi tersebut seperti laporan The New York Times, mengutip keterangan seorang pejabat Venezuela, seperti yang Al-Jazeera beritakan
Korban tewas dalam serangan AS mencakup warga sipil dan anggota militer. Salah satu serangan udara menghantam sebuah bangunan hunian tiga lantai di kawasan La Mar Catia, wilayah pesisir yang terletak di sebelah barat Bandara Caracas, Venezuela.
Di antara korban tewas terdapat seorang perempuan lansia bernama Rosa Gonzalez (80), bersama anggota keluarganya. Selain korban tewas, serangan tersebut juga menyebabkan korban luka-luka.
Kebingungan dan kepanikan menyelimuti warga di Caracas, Venezuela, ketika AS meluncurkan serangan. Pada tengah malam, warga berhamburan menuju jendela dan teras rumah. Sejumlah warga juga melaporkan listrik padam di berbagai titik.
“Dari sini, kami bisa mendengar ledakan di sekitar Fort Tiuna,” kata Emmanuel Parabavis (29), seperti pemberitaan AFP. Fort Tiuna merupakan salah satu pangkalan militer terbesar di Venezuela.
Maduro dan Istrinya Dibawa ke New York
Maduro bersama Istrinya dibawa ke New York. Pada Minggu (4/1), keduanya tiba di pangkalan militer di sana.
Dilansir AFP, Maduro yang dikawal ketat FBI ini perlahan-lahan turun dari pesawat milik pemerintah AS. Ia saat ini sudah berada di Fasilitas Garda Nasional New York, dan pergi dari landas pacu.
Maduro masih mengenakan pakaian yang sama, sweater dan celana training abu-abu saat tiba di AS.
AS Akan Kelola Minyak di Venezuela
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Washington akan memimpin Venezuela dalam masa transisi setelah penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers di klub Mar-a-Lago, Florida, Minggu (4/1/2026), hanya beberapa jam setelah aparat keamanan menangkap Maduro.
Trump menekankan bahwa Amerika Serikat akan segera mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak raksasa untuk masuk ke Venezuela. Ia menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan menginvestasikan miliaran dolar guna memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah akibat krisis berkepanjangan.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat—yang terbesar di dunia—untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” ujar Trump dengan nada tegas.
Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak hanya memperbaiki aset minyak Venezuela, tetapi juga akan mengambil peran aktif dalam menjual “sejumlah besar” minyak ke pasar internasional.
Ia menilai langkah ini akan menguntungkan Venezuela sekaligus memperkuat posisi Amerika Serikat sebagai pemimpin energi global.
(*)


